Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan

Main Hotspot Gratisan Bisa Mencuri Data Penting Anda!


Anda suka dengan akses internet gratis yang biasanya bertebaran di Mall, Cafe dan tempat umum lainnya? Jika iya, maka mulai sekarang saya sarankan untuk menghentikan kebiasaan tersebut, kenapa?

WiFi tanpa password. Mendengarnya, pemburu koneksi gratisan pasti sangat menyukainya. Namun tahukah Anda jika akses internet gretongan tersebut terindikasi modus baru dalam cybercrime?

Technical Consultant Symantec Indonesia, Fransiskus Andi Indromojo mengatakan jika akses internet tanpa kata sandi tersebut patut diwaspadai oleh pengguna internet.

Bukan tak mungkin jika WiFi ini adalah sebuah bola pancingan yang dilempar pelaku kejahatan (cyber) dengan target pengguna mobile.

WiFi berisiko bisa mendukung terjadinya pencurian data. Kalau ada WiFi yang tidak pakai password, jangan memasukan identitas kredensial. Identitas kredensial yang dimaksud adalah ‘kunci’ akun di internet. Misalkan saja username dan password.

Menurutnya, jika pengguna memasukkan identitas tersebut di lokasi WiFi tanpa password, sangat dimungkinkan data pribadi tersebut bisa dicuri oleh pelaku.

Lantas bagaimana cara pelaku mencuri identitas korban? Nantinya pelaku akan merancang tampilan sebuah situs yang menyerupai situs aslinya.

Dan ketika korban memasukkan identitas kredensial tersebut maka data-data yang diinput akan masuk ke server pelaku.

Dengan demikian, setelah data dan informasi korban dapat dipegang pelaku maka ia bisa melakukan apa saja yang ujungnya pasti merugikan si korban.

Lantas bagaimana berinternet yang aman dan nyaman di publik hotspot? Carilah lokasi WiFi yang memiliki password.

Di cafe atau hotel dan ‘lokasi terpercaya’, umumnya menggunakan username dan password di setiap WiFi yang mereka sediakan bagi pelanggan.
READMORE
 

Apa beda Ina-Geoportal dengan Google Maps?

Peta dasar Ina-Geoportal dari Badan Informasi Geospasial (BIG) memiliki perbedaan konten dengan peta dasar ciptaan Google di Google maps, demikian dikatakan Kepala Bidang Metadata BIG, Antonius Bambang Wijanarko.

Sebagai contoh, peta Ina-Geoportal tidak dapat meninjau lokasi di mana seseorang sedang berjalan sekarang, karena data yang tampil merupakan data resmi pemerintah--yang menyediakan informasi publik seperti data infrastruktur berupa lokasi gedung rumah sakit, kata Antonius selepas seminar "Ina-Geoportal: Gerbang Pentingnya Data dan Informasi Geospasial" di Jakarta, Jumat.

Di sisi lain, masih kata Antonius, Google maps tidak mempertimbangkan aspek geometri atau kedetailan suatu obyek di dalam peta jika diperbesar.

"Jika dilihat dari sistem operasi yang mendukung situs, pengunjung memang tidak akan melihat perbedaan apapun. Apakah sistem operasi yang digunakan Ina-Geoportal dan Google maps terbuka atau berbayar," kata Antonius.

Tapi perbedaan yang mendasar antara Ina-Geoportal dan Google Maps, menurut Antonius, adalah bahwa peta Ina-Geoportal dapat dipertanggungjawabkan pengunaannya secara publik karena memiliki payung hukum yang jelas.

Badan Informasi Geospasial menyediakan peta dasar Ina-Geoportal yang meliputi jalan, gunung, ketinggian daratan, batas wilayah, garis pantai, dan sebagainya di laman tanahair.net.

Namun, Antonius mengatakan situs penyedia peta dasar Ina-Geoportal itu akan diluncurkan secara resmi pada 2013.

Badan Informasi Geospasial merupakan nama baru dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) sesuai Peraturan Presiden Nomor 94 tahun 2011.
READMORE